Bila satu hari aku bisa menyadarkanmu, aku telah di surga, Tuhan.
Buyarkan keyakinanku dengan perlakuanmu, aku tidak perduli. Hapuskan ketabahanku dengan keteguhanmu, aku acuh.
Silahkan jemput kebahagiaanmu yang tak sanggup aku lihat. Aku hanya setitik hujan dibawah pelangimu yang kian menyilaukan aku dan teman-teman hujanku.
Untuk sekedar melihatmu tersenyum, yang tak sungkan untuk kamu lepas, yang tak memandangku, tidak apa, usah khawatir, aku bahagia bukan main.
Mimpiku sederhana. Kelak bila uangku lebih, sebagian akan ku tabung. Aku mau membangun mesjid dengan nama kedua orang tuaku.

Adorable or what?

  • This is a conversation between my niece (3 years old) and her mom, while we were on her car...
  • Her Mom : Adek pipinya tembem bgt sih, pipinya mau jatoh ya...
  • Niece : Hah? Jatoh kemana? (Liat-liat ke bawah sambil pegang pipinya)
  • Her Mom : Ini pipinya mau jatoh..
  • Niece : Jangan.. Nanti ga bisa dicium lagi..
  • Me : .......
Kamu tahu? Semua yang coba ku rangkai hanya akan membuatku tersadar, bahwa keheninganmu hanyalah tirai belaka.
Tersadar. Ternyata. Menanam benih di sahara hanya menghasilkan benih yang coba ku tanam.
Kamu boleh diam. Kamu boleh acuh. Bukannya aku tidak perduli, aku hanya membiarkan waktu yang menyekapmu ke dalam pelukanku.
Semenjak hari itu, aku tersadar. Tersadar bahwa kelak anakku harus memiliki matamu.