September (bagian empat)

Iya. Sekarang memang sudah Oktober. Tapi semua itu bermula dari September. Seperti ini…

Halilintar. Diawali dengan perjalanan yang tenang kian menenangkan. Tidak ada ekspektasi, dan harapan yang sama. Perlahan-lahan mulai menanjak. Seraya dibawa terbang. Saat sudah puncak tersadar bahwa ketenangan dan kenyamanan ini hanya fana, akan berakhir dalam sekejap ketika meluncur turun seketika terbawa arus dan angin yang menuntun kita dan kita benar tidak berdaya. Sejenak kita berpikir, keputusan menaiki halilintar adalah salah satu keputusan terburuk yang pernah kita buat. Semakin kencang, semakin membanting tubuh kita yang terasa seakan hendak keluar dari kereta ini. Menanjak, menurun, seperti itu terus kita dibawanya sebelum diakhiri dengan dua putaran yang memaksa kita untuk semakin menutup mata dan mengencangkan pegangan kita. Dan pada akhirnya kita kembali ke dalam ketenangan.

Seperti itu Septemberku.

Awal September terasa tenang tanpa ada pikiran apa-apa ingin memulai suatu akhiran dari perkuliahan. Nenekku yang aku pikir akan cepat kembali kepangkuan sofa idamannya, namun Tuhan memiliki rencana lain, Nenekku semaikin memburuk, tidak ada ekspektasi.

Tanggal 2, sepertinya rasa kangen ini sudah tidak dapat dilepas, iya aku mengangeninya, semuanya, kelucuannya, cara bicaranya, senyumnya, dua gigi depannya yang semakin membuatnya tambah lucu ketika tersenyum. Akhirnya aku bertemunya setelah entah berapa… Ah aku tidak perduli. Saat sedang tenang, seketika dia yang ku kangeni ternyata sudah tidak memiliki apa-apa terhadapku. Dia sudah punya pilihan hidup yang lain. Iya aku menyebutnya, pilihan hidup, dia memilih untuk tidak mengangeniku karena dia memilih yang lain. Memutuskan perasaan yang mulai ku racuni, menghilangkan perasaan yang berbulan-bulan aku endap, menghapuskan ikatan yang ku rajut erat. Seketika, semaunya, sejenak, seketika.

"Ini kan yang kamu mau? Kok kamu senang?"

Dulu memang aku memutuskannya, namun itu semua karena perbedaan yang sudah ada dari kita lahir, namun dia? Dia memutuskanku karena dia sudah mendapatkan yang baru.. Kejam? Aku tidak akan menghakimi.

Bukannya aku senang, aku bukan pemarah, aku bukan penangis. Aku tidak bisa dua-duanya. Jadi aku tertawa tanpa alasan.

Perasaanku pertama kali? Kaget, kecewa, marah. Marah mungkin alasan mengapa tulisan ini aku buat. Mereka bila, “Ketika kamu marah, kamu akan membuat kata-kata yang terbaik yang pasti akan kamu sesali.” Sampai sekarang kemarahanku pun tak ada yang bisa meredamnya, bahkan tidak teman-temanku. Namun aku bukan pemarah yang melontarkan isi kebun binatang, aku hanya diam dan memakinya dalam keheninganku.

Tanggal 9, Tuhan sepertinya memang punya rencana lain. Tuhan lebih menyayangi Nenekku berada dipangkuan-Nya. Aku ikhlas.

Tanggal 10, dia telah meresmikannya. Aku harus ikhlas.

Halilintar. Seperti itu Septemberku. Belum juga setengah bulan, namun perjalanan halilintarku sepertinya akan terus kebawah. Dengan kemarahan dan kesedihan yang bertumpuk ditambah beban perkuliahan yang tidak ada juntrungannya, semuanya ku jalani satu persatu dengan keheningan. Setelah ujian pertama aku dinyatakan gagal, kami diberikan kembali kesempatan untuk ujian kembali. Semua usaha terlihat seperti sia-sia karena pembahasan jawaban ujian kami yang jauh memenuhi harapan sang dosen. Terombang-ambing tidak menatap entah kemana jalan masa depanku yang semakin buram. Hasilnya pun dinyatakan hari itu juga. Dan betapa sangat mengejutkannya saat dikatakan kami lulus. Dari situlah aku belajar arti kebaikan yang murni. Atau kebaikan yang sesungguhnya, bukan kebaikan yang kuterima berbulan-bulan belakangan ini seperti basa-basi ingin mengharapkan sesuatu kembali.

Aku akui, dulu aku tidak menyukai beliau karena cara penilaian beliau yang membuat aku tidak pernah lulus mata kuliahnya. Namun kali ini aku tersadar bahwa beliau benar-benar baik. Baik yang tulus, baik yang sesungguhnya. Beliau bisa saja tidak meluluskan kami yang setelah pembahasan pun kami tidak tahu menahu jawaban yang beliau harapkan. Malah beliau memutuskan untuk meluluskan kami. Padahal saat pembahasan beliau seperti tidak ingin meluluskan kami, beliau berkata “Sekarang udah tau kan salahnya dimana? Ya udah.” Jawaban yang dingin. Membuatku keringat dingin memikirkan masa depanku bila tidak lulus. Namun tidak, beliau meluluskan kami semua. Beliau luar biasa.

Terima kasih Tuhan untuk bulan September dan Oktober ini. Semua pelajaran, pengkabulan doa, harapan yang terwujud, Semuanya ya Allah. Alhamdulillah.

Terima kasih Nini, untuk doa-doanya. Aku Nini memang sudah tidak di rumah Nini, tapi aku berharap dirumah Nini yang baru sekarang Nini lebih bahagia dan senyum atas kelulusanku. Aku teringat pesan dari ibuku, “Ibu jadi inget Nini, dulu Nini yang kepingin betul lihat Haykal jadi dokter, alhamdulillah ya Kal, semoga kesampaian juga keinginan Nini. Mudah-mudahan kedepannya diberi kemudahan oleh Allah ya Kal.” Amin ya Ni. Aku memang belum jadi dokter, namun aku memulai langkah baru.

Terima kasih Ibu untuk terus mendoakanku, tidak ada yang lebih ampuh dari doa ibu kita. Dan untuk tetap mempercayaiku walau banyak yang meragukanku. Setidaknya aku lebih sedikit maju sekarang , Bu.

Terima kasih dr. Djap untuk kebaikan hati dokter dan mengajariku arti kebaikan yang sesungguhnya.

Terima kasih kamu(?) untuk…. mengajariku arti kebaikan yang tidak sesungguhnya yang mengharapkan balasan.

Aku tidak menyesal menjadi baik, aku hanya menyesal menjadi baik untuk orang yang buruk.

Sometimes it’s not how you start it, it’s how you finish it.

september sitaplakmeja dikagumirina

"Kebaikan yang murni adalah kebaikan yang tak ingin dipanggil baik, Ia hanya ingin berbuat baik."

dikagumirina

"Baik itu bukan karena tanpa alasan atau tanpa tujuan atau tanpa balasan, yang ada hanyalah tanpa ketulusan ingin baik."

sitaplakmeja

"Berbulan-bulan aku dirasuki kebaikannya, memang luar biasa baik, aku tidak sangka, sampai kesangkaanku mulai tidak memihak pada hatiku dan logikaku mulai mencerna bahwa kebaikan hanya milik Tuhan."

sitaplakmeja

"Aku kira baik yang sesungguhnya baik bukan fana, tunggu sampai baik itu memalingkan wajahnya yang tersenyum sinis di dalam hatinya."

sitaplakmeja

"Tuhan itu seperti guru. Ia akan memberimu pelajaran kemudian memberikanmu ujian. Seperti itu terus."

selfpoetry

"Cinta ada di dalam diri para pelupa hebat. Mereka yang tak pandai mengingat dosa dan kesalahan orang lain."
- (via zarry-hendrik)
"Dahulu aku pikir kamu betul bidadari, tak disangka busuknya melebihi apapun yang bisa aku bayangkan."

sitaplakmeja