Bahagia ku kini dan yang lalu masih sama besarnya. Senyum ku tak perlu kamu hiraukan. Apalah arti sehelai daun bagi sebuah matahari?
Tertawa bukan berarti bahagia. Seperti tangis, sarat akan makna. Bukan makna yang perlu kita pahami. Namun pahami apa yang dapat kita perbaiki.
Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mengorek upil…. yang bulu hidungnya ikut tercabut. Jauhkan dahulu upil dari bulu mu.
Tak ada bahasa yang ku kuasai sesungguhnya. Hanya menerka arti dari intonasi. Lelah berbasa-basi. Main sendiri namanya masturbasi. Abang bantu ya, om?
Lama ku tak bersua. Makan mie tanpa kuah. Indomie goreng dobel pake telor, bang.

The darkest light : part iv

Kaku.

Di tengah malam, ku terbangun namun ku tak bisa gerakkan badan ku.

Kaku.

Tak bisa berbicara. Tak bisa apa-apa.

Hanya bisa melihat.

Satu helai, dua helai, tiga helai.

Seikat rambut mulai menutupi wajah ku dari arah atas kepala ku.

Kini aku sedang menatap matanya yang hampa, terbalik.

Aku bahkan dapat melihat tulang pipinya.

Aku tak dapat berteriak.

Ia malah tertawa lantang, menyeringai, melototi ku.

Ku hanya bisa memejamkan mata.

The darkest light : part iii

Dingin betul malam itu.

Memang hujan saat itu.

Lalu ku tarik selimut ku.

Aneh. Seingat ku selimut ku tebal.

Tapi malam itu terasa tipis sekali.

Berat betul saat ku tarik.

Ku coba tarik kembali, lalu ku gunakan kedua tangan ku.

Masih berat juga. Saat ku tengok selimut ku yg berat… Kapas. Kapas di hidungnya.

Gelap.

The darkest light : part ii

Tergesa-gesa dan basah. Aku sedang mandi dan mengejar waktu.

Terdengar ketukan di pintu kamar mandi ku. Oh pasti itu kakakku yg baru pulang.

Seketika mati lampu kamar mandi ku. Kurang ajar memang kakak ku.

Ku teriakan sekumpulan binatang. Dan kakak ku pun seperti memukul pintu kamar mandi ku dengan sebuah palu. Kencang betul memang.

Kaget ku, hampir ku jatuh, lalu ku mempercepat mandiku dengan penuh emosi.

Tiba-tiba telepon berbunyi, lalu ku angkat… “Sebentar lagi kakak sampai, tolong SMS ayah atau ibu untuk segera pulang…”

Ternyata, aku tidak benar-benar sendiri dirumah.

The darkest light : part i

Terdengar cekikikan dari seberang kamar. Mata sayu ku pun mulai mencoba meresapi gelapnya kamar. 

Tawanya mulai mengeras. Dingin memang suasananya. Aku pikir ibu ku masih bangun. Jam ku lihat menunjuk angka 3.

Suara tawa semakin mengeras.

Tanpa ku sadari, tawanya sudah di telingaku.

Terbujur kaku.

Meratapi senyum yang diselimuti darah segar.